Unforgettable Trip To Bengkulu

Minggu lalu, saya mengunjungi Bengkulu dalam rangka bekerja. Pergi hari Rabu, pulang hari Sabtu. Saya memiliki rencana untuk mengunjungi kantor yang berada di Curup dan Manna. Baru kali ini saya mendengar nama kota tersebut.

Kota Bengkulu, selain mengingatkan saya pada Bunga Bangkai dan Fatmawati Soekarno, saya juga teringat oleh kejadian mengenaskan yang dialami oleh perempuan SMP yang diperkosa.

Jika kamu pergi ke Bengkulu pada bulan Agustus, cukup sulit mendapatkan kamar hotel di Bengkulu karena penuh.

Akhirnya saya menginap di Hotel dekat Bandara. Sebut saja Hotel J. Kesan awalnya cukup baik sampai akhirnya melihat banyak lumut di toilet.

Kesialan yang terjadi berikutnya adalah, AC kamar yang nggak dingin sama sekali padahal udah 16 derajat. Dan ternyata kamar teman saya juga nggak dingin.

Untuk sarapan, menunya cukup baik. No problem with that. Yang paling bikin jengkel dari hotel ini adalah kamar tidak pernah dirapikan.

First, the hotel. What's next? 

Ini yang paling unforgettable selama di Bengkulu.

Perjalanan ke Curup nggak terlalu mulus. Cocok sekali untuk drift, seperti di Tokyo Drift. Rata-rata belokannya memiliki derajat sebesar 180 (perhitungan kasar 😅). Jarang sekali ada jalan lurus disini. Belum selesai belok, udah belok lagi.

Tapi ternyata perjalanan ke Curup nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjalanan ke Manna. Kalo waktu di Curup masih bisa tidur di mobil, di Manna udah kayak naik roller coaster . Sepanjang perjalanan nggak ada ceritanya bisa tenang. Lebih banyak deg-degannya. Supirnya lebih kejam dibandingkan dengan supir bus yang pernah saya tumpangi dalam perjalanan dari Jogja ke Surabaya. Kepala kepentok berkali-kali. Badan goyang ke kanan ke kiri melulu. Dan lucunya, setiap ada lubang di jalan, si supir tetep ngebut dan lebih memilih menghindari lubang tersebut meskipun lawan arah dan di depan ada mobil dibandingkan mengurangi kecepatan mobilnya. Kasihan mobilnya.

Untungnya, alam Bengkulu cukup indah dinikmati. Sepanjang perjalanan banyak terlihat pohon kelapa sawit. Meskipun dalam hati kecil saya, banyak pihak yang dirugikan dengan adanya kelapa sawit ini. Bukan salah kelapa sawitnya, namun cara eksploitasinya yang menurut saya harus lebih baik.

Sayangnya, saya tidak sempat untuk melihat bunga bangkai maupun bangunan yang menjadi tempat pengasingan Bung Karno. Meskipun hanya sebentar perjalanan ke Bengkulu ini, tapi tidak terlupakan.

Winny Irmarooke

Trying to live sustainably.

https://winnyirmarooke.com
Previous
Previous

What I Love About Ambon

Next
Next

Quick Trip To Northern Sumatera